Yup! Apa yang salah dengan satu kata bernama pesona? (bukan majalah lho!). Aku tau, nggak semua orang bisa memancarkan ini dari dalamdirinya (orang paling cantik sekalipun). Only a lucky one who has it or who can show it. Unfortunately, sometimes i think that i have it. I can show it although i'm not realize it. Yeah, aku tidak akan pernah menyadarinya kalau saja seorang teman baik tak memberitahuku.
Tepatnya dua tahun lalu, ketika aku harus menghadapi masalah yang menurutku cukup berat sepanjang hidupku. Waktu itu masalah datang bertubi2 padaku, membuat aku uncontrolled. Hanya teman-teman terdekat yang benar2 mengerti akulah yang selalu di sampingku dan memberikan dukungannya. Kepercayaan mereka, itulah modalku menjadi kuat.
Ya...tahun 2005, di tengah semua masalah yang terjadi padaku, seorang teman baik bilang,"That's not your fault if you have it, you've to thank to God because you have it. Yeah, it's in you." Deg! Nggak pernah kepikir olehku sebelumnya, bahwa ada istilah itu dan dia menyadarkanku. Sayang, dengan begonya aku hanya bisa bertanya2..."Masa' iya sih begitu?"
Kupikir, hanya mereka yang cantiklah yang punya pesona dalam dirinya hingga mampu menarik orang lain. Lha aku, siapa sih? Cantik enggak, kok sok-sokan.
FYI guyz, sebenernya tiap orang punya potensi untuk tampak menarik kok! ASAL tahu gimana cara membuat dirinya bersinar. Misalnya, biar cantiknya nggak banget2, tapi kalo cerdas dan nyambung diajak ngomong, dia pasti bakal tampak menarik. That's a side of charming. Then, charming could be a style. Gaya bicara, gaya berpakaian, gaya bersikap, i mean it. What else? Hmmm...so on and so on deh!
Lha tapi kenapa charming itu malah bikin masalah? Damn, aku tak peka, aku tak pernah menyadari apa yang sesungguhnya kumiliki. Setelah hilang atau membuatku sedih, barulah aku menyadarinya, ouchhh...STUPID! Entahlah, biasanya memang orang terdekatku lah yang mengingatkan aku untuk waspada (gila ya, 'alarm'ku sendiri nggak nyala sampe aku harus di'bangun'in orang lain).
Dulu VLadDku yang suka ngingetin (dia lebih peka daripada aku), adekku bisa, mama dan papa juga, trus beberapa temenku (dulu dan sekarang) juga ada yang udah bisa baca sinyal gawat yang tertuju padaku, ih...ngeri!
Hmmm...let me think a minute...Ok, mungkin karena pada dasarnya aku terlalu menganggap hidup ini begitu polos. Ketika aku bersikap "M" pada semua orang, aku beranggapan semua orang akan menganggap itu "M". Seolah aku lupa bahwa kalau satu kaki dihilangkan, anggapannya bisa jadi "N" atau kalau diputar ke kiri anggapannya akan jadi "E", kalau dibalik jadi "W", dan seterusnya.
Then, ketika anggapan itu bervariasi, akulah yang dijamin bakal kelabakan sendiri! Seperti sekarang ini, ada beberapa orang terdekat yang mulai membacakan sinyal padaku. Haruskah kuanggap angin lalu, atau malah ini badai yang menggoncang benteng pertahananku?
Kalau seorang teman baik bilang itu bukan salahku, lalu what's wrong? Rasanya memang semua bergantung pada cara pandang masing-masing orang kan? Tapi udahlah, toh ini tulisan bukan untuk cari siapa yang salah...aku hanya ingin berbagi, itu saja.
So...meskipun naturally kita punya pesona yang kadang nggak kita sadari, baiknya imbangi dengan kepekaan. Soalnya...kalo kurang peka, bisa jadi bumerang buat kita, huhuhu...gak enak kan.
Niat baik yang didukung dengan sikap baik, karma yang didapat seharusnya juga baik. Sayangnya, apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut orang lain juga...I wish i can be more wise and mature to be a good woman in my next episode of life. (hehehe...bener gak sih niy grammar-nya?) =P
- in my room Dec 3rd 2007
Recent Comments